
JAKARTA – Konflik bersenjata di Timur Tengah kembali menjadi perhatian dunia bukan hanya karena dampak kemanusiaannya, tetapi juga karena ancamannya terhadap perekonomian global. Gangguan jalur perdagangan dan energi membuat pasar internasional menghadapi risiko kenaikan harga komoditas, inflasi, serta tekanan terhadap pertumbuhan ekonomi.

Salah satu titik paling sensitif adalah Selat Hormuz, jalur strategis yang selama ini menjadi rute penting bagi perdagangan energi dunia. Konflik yang berlangsung membuat lalu lintas kapal dan pengiriman energi melalui kawasan tersebut terganggu. Reuters melaporkan kondisi itu telah meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan energi dan harga bahan bakar global.
Dampaknya tidak berhenti pada sektor minyak dan gas. Kenaikan biaya energi dapat meningkatkan ongkos transportasi, produksi industri, distribusi barang, hingga harga kebutuhan masyarakat. Negara-negara yang sangat bergantung pada impor energi menjadi kelompok yang paling rentan menghadapi tekanan tersebut.
IMF memperingatkan risiko terhadap pertumbuhan dunia. Dalam World Economic Outlook Juli 2026, IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global sebesar 3,0 persen pada 2026 dan 3,4 persen pada 2027. IMF juga menyebut guncangan akibat perang memberikan tekanan lebih besar kepada negara pengimpor energi dan ekonomi yang memiliki ruang kebijakan terbatas.

Perang juga berpotensi menghambat proses penurunan inflasi yang sebelumnya mulai terjadi di berbagai negara. IMF memperkirakan inflasi global akan meningkat dari 4,1 persen pada 2025 menjadi 4,7 persen pada 2026, sebelum kembali turun menjadi 3,9 persen pada 2027.
Situasi tersebut dapat menjadi dilema bagi bank sentral. Ketika harga energi dan barang meningkat, bank sentral dapat mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama untuk menjaga stabilitas harga. Namun, suku bunga tinggi juga berpotensi menekan investasi, konsumsi dan pertumbuhan ekonomi.
Reuters mencatat pasar keuangan global sejauh ini masih menunjukkan ketahanan, tetapi tekanan terhadap harga energi dan bahan bakar tetap menjadi perhatian investor. Harga diesel dan bahan bakar olahan bahkan menghadapi tekanan yang lebih besar akibat gangguan kapasitas produksi dan distribusi.
Perang juga memperbesar risiko gangguan rantai pasok internasional. Ketika jalur pelayaran terganggu, perusahaan dapat menghadapi kenaikan biaya pengiriman dan waktu distribusi yang lebih panjang.
Kondisi ini dapat berdampak pada negara-negara Asia, Eropa dan Afrika yang terhubung erat dengan perdagangan global. IMF sebelumnya menegaskan bahwa dampak perang bersifat global namun tidak merata, dengan negara pengimpor energi dan negara berkembang menjadi kelompok yang relatif lebih rentan.
Di tengah ketidakpastian geopolitik, investor biasanya kembali memperhatikan aset yang dianggap lebih defensif, termasuk emas. Namun, pergerakan emas tidak selalu naik ketika perang meningkat karena harga emas juga dipengaruhi oleh dolar AS, imbal hasil obligasi dan ekspektasi suku bunga.
Reuters mencatat emas sempat bergerak melemah setelah mencapai level tertinggi dalam beberapa bulan, menunjukkan bahwa sentimen geopolitik bukan satu-satunya faktor yang menentukan arah pasar logam mulia.
Konflik yang berkepanjangan dapat menciptakan tekanan berlapis terhadap ekonomi dunia: energi menjadi lebih mahal, inflasi meningkat, biaya logistik naik, perdagangan terganggu dan ruang kebijakan pemerintah semakin terbatas.
IMF memperingatkan bahwa konflik yang lebih panjang atau meluas dapat memperburuk prospek pertumbuhan, meningkatkan volatilitas harga komoditas dan mengganggu pasar keuangan global.
Bagi perekonomian Indonesia, perkembangan tersebut perlu terus dicermati, terutama dari sisi harga energi, nilai tukar rupiah, inflasi dan biaya impor. Setiap eskalasi konflik global dapat dengan cepat merambat ke pasar komoditas dan pasar keuangan domestik.
Redaksi Ekonomi Global
Catatan foto: Foto prajurit di atas digunakan sebagai ilustrasi konflik dan tidak dimaksudkan untuk menunjukkan pihak atau peristiwa tertentu.




Tidak ada komentar